Teknik Sipil Berhasil Tambah Daftar Doktor Fakultas Teknik UNSOED

Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) berhasil menambah lagi dosen berkualifikasi Doktor yaitu dari Prodi Teknik Sipil. Dosen tersebut adalah Sanidhya Nika Purnomo, ST., MT. yang merupakan dosen yang berkualifikasi Doktor yang ke -10 dari Teknik Sipil dengan Bidang Peminatan Hydraulic engineering, berhasil meraih gelar Doktor (Ph. D) di National Cheng Kung University, Taiwan.

Sanidhya Nika Purnomo, S.T., M.T., Ph. D. berhasil mempertahankan desertasinya yang berjudul “Land Subsidence and Coastal Flooding Induced by Groundwater Abstraction in Semarang, Indonesia”. Beliau berhasil lulus dalam ujian disertasi yang dilaksanakan secara daring (13/05/22) dengan Tim Penguji yang tersebar di 6 tempat di Taiwan. Tim Penguji tersebut terdiri dari Prof. Lo, Wei-Cheng (supervisor) dari National Cheng Kung University, Taiwan; Prof. Hsu, dari National Cheng Kung University, Taiwan; Prof. Ni, Chuen-Fa dari National Central University, Taiwan; Prof. You, Gene Jiing-Yun dari National Taiwan University, Taiwan; Prof. Shih, Dong-Sin dari National Yang Ming Chiao Tung University, Taiwan; dan Dr. Liao, Hong-Ru dari Ministry of Science and Technology, Taiwan.

Sanidhya Nika Purnomo, S.T., M.T., Ph. D menyampaikan bahwa disertasinya ini mengenai pemodelan dan prediksi penurunan tanah (land subsidence) serta genangan akibat adanya pemompaan air tanah yang berlebihan. Lokasi disertasi saya adalah di Semarang bagian utara. Kita bahwa pantura Jawa rentan terhadap penurunan tanah dan banjir rob (seperti yang terjadi pada 25-28 Mei 2022 kemarin). Semarang yang merupakan salah satu kota metropolitan di Indonesia dan sekaligus ibu kota Jawa Tengah merupakan kota yang selama puluhan tahun mengalami penurunan tanah dan banjir rob.

Dalam penelitiannya mencoba memodelkan dan memprediksi pengaruh pemompaan air yang berlebihan, terhadap penurunan tanah dan genangan di daerah tersebut. Pemodelan penurunan tanah dilakukan dengan membuat model konseptual hidrogeologi di cekungan air tanah Semarang, dengan menambahkan beberapa parameter berupa sumur dalam yang memiliki kedalaman 80 hingga 100 m, recharge air tanah dari hujan, dll. Sedangkan untuk pemodelan banjir dan genangan dilakukan pemodelan banjir 2 dimensi, sehingga bisa diketahui seluas apa genangannya. ”Hasil dari pemodelan penurunan tanah divalidasi menggunakan data pengukuran penurunan tanah berdasarkan metode levelling, GPS dan peta satelit InSAR”, urainya.

Lebih lanjut Sanidhya Nika Purnomo, S.T., M.T., Ph. D mengungkapkan bahwa hasil eksperimen yang telah dilakukannya menunjukkan bahwa “pemompaan air yang berlebihan menambah keparahan penurunan tanah sehingga memperparah banjir dan genangan akibat rob. Dalam beberapa tahun yang akan datang, dengan adanya tren kenaikan air laut (sea level rise), jika tidak ada penanganan khusus atau pembatasan terhadap pemompaan air tanah, maka penurunan tanah akan semakin parah, dan tentu saja hal tersebut akan memperparah kondisi banjir dan genangan di Semarang bagian utara”, ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

EnglishIndonesian