Klaten, 20 Maret 2026 – Momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dimanfaatkan sebagai sarana refleksi spiritual oleh masyarakat Plawikan, Jogonalan, Klaten. Bertempat di Lapangan Mas Putih Mas Kembar, ratusan jamaah dari berbagai kalangan mengikuti pelaksanaan Salat Idul Fitri yang berlangsung khidmat pada Jumat, 20 Maret 2026.
Bertindak sebagai imam sekaligus khotib, Dr. Ir. Nurul Hidayat, S.Pt., M.Kom., yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), menyampaikan khutbah dengan tema “Allah Yang Maha Memberi Rezeki (Ar-Razzaq)”. Tema ini menekankan bahwa seluruh rezeki yang diterima manusia, baik berupa materi maupun non-materi seperti kesehatan, ilmu, keluarga, dan kebahagiaan, sejatinya berasal dari Allah SWT.

Dr. Ir. Nurul Hidayat, S.Pt., M.Kom. bertindak sebagai khotib Idul Fitri 1447 H di Klaten
Dalam khutbahnya, beliau mengajak jamaah untuk meluruskan pemahaman mengenai rezeki. Ia menegaskan bahwa manusia hanya berikhtiar, sementara ketentuan tetap berada dalam kehendak Allah SWT.
“Seringkali kita menganggap rezeki berasal dari pekerjaan atau usaha semata, padahal semua itu adalah bagian dari kehendak Allah. Rezeki tidak akan tertukar dan telah ditetapkan oleh-Nya,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sikap bersyukur, bersabar, dan bertawakal dalam menjalani kehidupan. Dalam kondisi sulit maupun lapang, umat Islam diingatkan untuk tetap optimis dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia juga mengajak jamaah untuk menjadikan setiap rezeki sebagai sarana ibadah dan bentuk kepedulian terhadap sesama.
Tema khutbah ini diangkat sebagai respons terhadap kondisi sosial masyarakat yang masih kerap memaknai rezeki secara terbatas pada aspek material, serta menghadapi berbagai ujian kehidupan, seperti kesulitan ekonomi dan bencana. Oleh karena itu, pesan spiritual yang disampaikan diharapkan mampu membangun optimisme dan ketenangan batin di tengah dinamika kehidupan.
Pelaksanaan Salat Idul Fitri ini juga mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dan gotong royong masyarakat. Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi panitia PHBI setempat, dengan partisipasi aktif warga mulai dari anak-anak hingga orang tua. Lapangan Mas Putih Mas Kembar dipilih sebagai lokasi karena mampu menampung jamaah dalam jumlah besar serta memiliki nilai historis dan sosial bagi masyarakat sekitar.
Dr. Nurul Hidayat juga menyoroti pentingnya peran imam dan khotib sebagai pemandu spiritual umat. Menurutnya, khutbah bukan sekadar bagian dari ritual ibadah, tetapi juga sarana strategis untuk menyampaikan nilai-nilai moral dan sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

Dr. Ir. Nurul Hidayat, S.Pt., M.Kom. memberikan khutbah Idul Fitri 1447 H di Klaten
Sebagai akademisi, beliau menegaskan bahwa keterlibatan dalam kegiatan keagamaan merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Akademisi diharapkan tidak hanya berperan di lingkungan kampus, tetapi juga hadir di tengah masyarakat sebagai agen perubahan yang mampu menjembatani ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keislaman secara kontekstual dan aplikatif.
Menutup khutbahnya, ia mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadan sebagai titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa. Semangat ibadah, kepedulian sosial, serta kedekatan kepada Allah SWT diharapkan dapat terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadikan Ramadan sebagai awal perubahan. Teruslah menjaga ibadah, membantu sesama, dan memperbaiki diri agar kita kembali kepada Allah dalam keadaan terbaik,” pungkasnya.
Momentum Idul Fitri 1447 H ini diharapkan menjadi awal bagi umat Islam untuk menjadi pribadi yang lebih baik—lebih sabar, lebih bersyukur, dan lebih dekat kepada Allah SWT, serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.

Jamaah sholat Idul Fitri 1447 H mendengarkan khutbah