Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman
Navigation
Subscribe to KABAR RISET DIKTI feed
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Official Site

Inovasi Implan Tulang Buatan Dalam Negeri Bisa Mengurangi Beban Impor

Mon, 02/20/2017 - 17:42

Sidoarjo – Hasil inovasi dalam negeri berkaitan dengan material implan tulang telah mampu dibuat dan segera diproduksi secara massal untuk dapat diterapkan pada dunia kesehatan sebagai upaya kemandirian dan daya saing industri obat serta alat kesehatan dalam negeri.

Sebagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK), dalam hal ini, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), melalui Pusat Teknologi Material BPPT berhasil mengembangkan implan tulang Stainless Steel 316 L dari bahan lokal yang pengerjaannya tetap dipercayakan kepada perusahaan lokal, yakni PT Zenith Allmart Precisindo (ZAP).

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, sangat mendukung dan mengapresiasi dengan adanya  inovasi material implan tulang buatan dalam negeri melalui pendanaan insentif inovasi industri ini.

“Selama ini Indonesia impor implan tulang mencapai 100%, kalau nantinya bisa diproduksi dengan baik, harapan saya, ini bisa mendorong kemandirian alat-alat kesehatan di Indonesia untuk mengurangi impor dan mengurangi beban Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) untuk Negara,” imbuh Menteri Nasir disela kunjungannya di PT. ZAP, Surabaya, Senin (20/2).

Menurut Menteri Nasir, kebutuhan implan tulang di Indonesia sangat tinggi. Hal tersebut terjadi seiring dengan tingginya angka kecelakaan yang mengakibatkan fraktur hingga masalah osteoporosis pada tulang. Namun, biaya yang sangat tinggi untuk implan tulang membuat masyarakat sulit menjangkaunya.

“Mayoritas masyarakat Indonesia lebih percaya berobat ke alternatif dibanding pengobatan medis seperti implan tulang karena mahal. Mudah-mudahan dengan inovasi itu bisa menjadi solusi dengan harganya yang lebih murah,” ujarnya.

Menristekdikti juga mengharapkan, setelah melewati proses sertifikasi produksi dan izin edar sesuai standar kesehatan di Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pada pertengahan tahun 2017 ini, implan tulang ini sudah mulai di produksi yang ditargetkan akan mengurangi impor pada bahan baku alat kesehatan mulai dari 70% hingga 80%.

Direktur Pusat Teknologi Material BPPT,  Asep Riswoko mengatakan, implan tulang yang dikembangkan memanfaatkan Ferro-Nickel lokal sebagai bahan baku utama. Ia menyebut, produksi implan tulang SS 316L ini dikembangkan dengan menggandeng mitra lokal menggunakan sumber daya Ferro-Nickel dari Pomala, Sulawesi Tenggara.

CEO PT. ZAP, Allan Cangrawinata, menyebutkan bahwa penelitian implan tulang ini sudah lama dilakukan pada tahun 2015 hingga pada tahun 2017 dengan peneliti dari BPPT untuk membuat prototipe implan tulang yang dinamakan “Zenmed Medical”.

“Kami berterimakasih atas dukungan pemerintah melalui program dana insentif Kemenristekdikti dan teman-teman peneliti dari BPPT, sehingga bisa mewujudkan prototipe implan tulang yang berbasiskan manufaktur, sebagai wujud komitmen kami mulai dari proses riset sampai pada hasil inovasi,” tutur Allan. (ard/tls)

Pemanfaatan Karet Alam Dalam Negeri Menjadi Inovasi Rubber Airbag

Mon, 02/20/2017 - 14:11

Gresik – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan, kantong udara dari karet (Rubber Airbag) sebagai bagian dari upaya pemerintah melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk meningkatkan perekonomian Indonesia dengan hasil inovasi yang bekerja sama dengan industri lokal.

“Kita perlu adanya inovasi untuk memberdayakan produk dalam negeri dan mengurangi impor. Namun, inovasi tanpa investor tidak akan bisa terwujud. Inovasi tanpa inventor maka tidak akan bermanfaat, harus terjalin kolaborasi antara penemu atau peneliti dengan pemodal,” ujar Menteri Nasir saat peninjauan di PT. Indonesia Marine Shipyard (IMS), Gresik, Senin (20/2).

Rubber Airbag sendiri merupakan produk yang digunakan industri perkapalan untuk membantu proses menaikkan dan menurunkan kapal di galangan, baik dalam pembangunan kapal baru maupun reparasi kapal yang sebagian besar, berbahan karet alam lokal.

Kepala BPPT, Unggul Priyanto menjelaskan, BPPT bekerja sama dengan industri lokal PT. Mitra Prima Sentosa (MPS) dan PT. Indonesia Marine Shipyard (IMS) untuk membuat rubber airbag yang nantinya akan dimanfaatkan di industri perkapalan untuk menunjang agenda poros maritim Republik Indonesia.

“Awalnya kita berfikir bagaimana memanfaatkan karet ini sehingga lebih bermanfaat dalam bentuk jadi daripada di ekspor, dengan bekerja sama dengan industri lokal, akhirnya kita membuat rubber airbag ini melalui dana insentif untuk hilirisasi produk inovasi,” ucapnya.

Menurut Priyanto, kebutuhan produk rubber airbag bagi industri kalangan kapal nasional sedang mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi karena produksi kapal naik 28,3% dan sektor galangan tumbuh 10%. Nantinya, penggunaan rubber airbag ini dapat menjadi pilihan bagi industri galangan kapal karena lebih praktis dan investasinya yang murah.

Menristekdikti, M. Nasir yang melihat langsung proses kerja rubber airbag di PT. IMS ini, berharap produk ini dapat mempunyai manfaat bagi negeri dan mengurangi ketergantungan pada barang impor dengan membuat inovasi yang memanfaatkan bahan baku alam lokal.

“Riset yang berujung pada inovasi inilah yang harus kita dorong agar bisa memiliki manfaat kepada masyarakat. Indonesia punya potensi yang besar dengan Sumber Daya Alam yang luas. Tanpa adanya inovasi, akan sulit bagi Indonesia akan berkembang dan bersaing di pasar ekonomi,” tegas Nasir.

Sofyan Lesmana, yang mewakili PT. Mitra Prima Sentosa (MPS) menyampaikan akan terus bersama-sama memanfaatkan hasil penelitian yang positif ini dengan BPPT untuk memanfaatkan kekayaan alam Indonesia dengan membuat produk seperti Rubber Airbag yang lainnya.

“Salah satu alasan kenapa kita buat Rubber Airbag ini adalah suatu galangan yang inovatif, murah dan bisa dengan cepat menekan dan menurunkan kapal, tidak perlu bangunan yang canggih, cukup bibir pantai yang rapih, maka kapal bisa diperbaiki,” ujar Sofyan. (tls/ard)

Menristekdikti : Saya Yakin Perguruan Tinggi di Tanah Papua Bisa Punya Akreditasi A

Fri, 02/17/2017 - 22:14

Timika – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, membuka sekaligus memimpin Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan Pimpinan Yayasan di lingkungan Kopertis Wilayah XIV Papua dan Papua Barat, di Timika, Jumat (17/2).

“Alasan Saya hadir disini karena Saya ingin mendorong Perguruan Tinggi di Papua dan Papua Barat. Saya berharap kedepan ini bisa menjadikan pintu gerbang untuk membangun Negara dengan lebih baik dengan sumber daya yang dimiliki oleh putera-puteri Papua,” tegas Menteri yang berasal dari Undip itu.

Rapat yang digelar selama dua hari ini mengusung tema “Memperkuat Sinergi Perguruan Tinggi Swasta untuk Meningkatkan Mutu SDM yang Memiliki Daya Saing” dan dihadiri juga Direktur Pembinaan Kelembagaan Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti Totok Prasetyo, Direktur Sistem Inovasi Kemenristekdikti Ophirtus Sumule, serta Wakil Bupati Timika, Yohanes Basang.

Rakerda dihadiri oleh 59 Perguruan Tinggi Swasta yang berada di Papua dan Papua Barat yang terdiri dari 9 Universitas, 2 Institut, 35 Sekolah Tinggi, 10 Akademi, dan 3 Politeknik.

Nasir menyampaikan dihadapan peserta Rakerda bahwa akan ada program prioritas tahun 2017 yang menjadi tujuan utama Kemenristekdikti untuk menyempurnakan program-program tahun 2016 antara lain adalah meningkatkan akses, relevansi, dan mutu Pendidikan Tinggi untuk menghasilkan SDM yang berkualitas, Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi, dan Revitalisasi LPTK, terutama Pendidikan Profesi Guru.

Nasir menyadari bahwa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Papua dan Papua Barat lebih dominan pada Sekolah Tinggi dan Akademinya, karena sebagian besar disini adalah pekerja, oleh karena itu Nasir akan memberikan fokus kepada pembenahan sekolah tinggi, akademi, serta politeknik. Dalam paparannya, Menteri Nasir menyampaikan tentang revitalisasi pendidikan tinggi vokasi, dirinya bertekad Papua bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas dari putera-puteri daerah yang melakukan pendidikan tinggi di sekolah tinggi, akademi serta politeknik.

Pengembangan Pendidikan Tinggi di Papua
“Dosen-dosen baik di sekolah tinggi, akademi, dan politeknik nantinya harus mempunyai sertifikat kompetensi sesuai kebutuhan industri, Kemenristekdikti akan membiayai penuh melalui Kopertis Wilayah XIV pada dosen di Papua untuk di didik lagi selama kurang dari 1 (satu) tahun demi mendapatkan sertifikat kompentesinya tersebut,” imbuhnya.
Koordinator Kopertis Wilayah XIV Festus Simbiak menyampaikan tujuan Rakerda ini untuk meningkatkan wawasan dan inovasi serta membahas berbgai dinamika dan kondisi PTS terkini dan masa akan datang.

“Semoga hasil Rakerda ini nantinya dapat memberikan kontribusi nyata untuk menjadikan PTS di Papua dan Papua Barat yang sehat untuk mghasilkan SDM yg berkualitas,” ucapnya.

Wakil Bupati Timika, Yohanes Basang juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Rakerda Kopertis Wilayah XIV ini, dan menurutnya akan menjadi momentum, karena kehadiran Menristekdikti secara langsung di tanah Papua.

“Saya mengharapkan Rakerda ini dapat menghasilkan kebijakan dan sinergi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam hal memajukan pendidikan tinggi untuk mengatasi masalah dan menjawab masalah itu dengan cemerlang serta berinovasi,” tutur Yohanes.

Nasir juga menyampaikan bahwa dirinya berharap setelah Rakerda ini, Perguruan Tinggi Swasta di Papua dan Papua Barat dapat lebih maju dan minimal akan ada PTS yang mempunyai akreditasi A di Papua kedepannya.

“Mimpi saya nantinya ada Perguruan Tinggi di wilayah Papua dan Papua Barat yang punya Akreditasi A, karena mutu pendidikan tinggi di Indonesia bagian timur harus segera ditingkatkan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan saya yakin di masa datang akan ada pemimpin yang hebat dari putera-puteri daerah dari Papua,” harapnya. (Ard)

SAPTO Buat Proses Akreditasi Jadi Lebih Baik

Fri, 02/17/2017 - 00:45

Jakarta – Kamis (16/02), Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir membuka acara Asesmen Kecukupan tentang akreditasi Perguruan Tinggi dan Prodi untuk pertama kali di tahun 2017 ini, yang dilaksanakan di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta. T. Basaruddin sebagai Direktur Dewan Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) menjadi pembicara pertama dalam acara tersebut.

Untuk memudahkan BAN-PT dalam mendata perguruan tinggi yang sudah terakreditasi ataupun belum terakreditasi, maka dalam acara tersebut pihak BAN-PT menyisipkan pelatihan untuk penggunaan Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi Online atau yang disingkat dengan “SAPTO”.

“Dengan sistem tersebut kita harapkan bukan hanya dapat meningkatkan efesiensi dan kapasitas BAN-PT, tetapi sekaligus dapat meningkatkan akurasi, objektifitas transparansi, dan akuntabilitas,” ujar Basaruddin.

Basaruddin mengatakan, saat ini BAN-PT telah melakukan akreditasi perguruan tinggi sebanyak 1.118 dan masih ada 3.400 perguruan tinggi lagi untuk diakreditasi. Sedangkan untuk akreditasi Program Studi BAN-PT baru mengakreditasi 20 ribu dari 24 ribu prodi yang ada, dan BAN-PT memprediksi pada tahun 2017 ini pihaknya harus mengakreditasi sebanyak 35 ribu prodi.

Menurut Nasir proses akreditasi kedepannya harus memberikan jaminan kepada user karena perkembangan Perguruan Tinggi di Indonesia sangat tinggi sekali, tapi yang sudah diasesmen oleh asesor masih sangat rendah. Proses akreditasi tidak akan selesai bila di lakukan dengan model-model yang konvensional, maka dengan adanya SAPTO proses akreditasi bisa lebih baik, efektif, efisien, dan kualitas tetap terjaga, dan selama sosialisasi Nasir berharap agar proses submission secara online tersebut tidak hanya dimengerti oleh para asesor saja, namun pihak institusi dan prodi juga harus diajarkan cara melakukan submission secara online.

Dalam akhir sambutannya Nasir menyambut baik dengan adanya sistem SAPTO. “Nanti didalam sistem akreditasi ini, dengan sistem yg telah diolah oleh tim dari majelis dan dewan eksekutif ini saya sangat senang sekali. Dengan SAPTO ini beberapa permasalahan terkait akreditasi akan selesai dengan baik,” tuturnya. (TJS)

UNU Purwokerto Resmi Berdiri

Tue, 02/14/2017 - 15:32

Banyumas – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir serahkan Surat Keputusan (SK) Pendirian Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto, Selasa (14/2) di Purwokerto, Kecamatan Karanglewas. SK tersebut diserahkan langsung oleh Nasir kepada Rektor UNU Purwokerto Ahmad Sodiq.

Menurut Ketua Harian PBNU Hanief Saha Ghafur selama ini PBNU ikut andil besar dalam mempersiapkan kelahiran UNU Purwokerto dan selalu mendukung agar warga NU ikut dalam membangun Pendidikan Tinggi.

“Pendidikan itu adalah amanat, amanat kita semua, oleh karena itu mengelola pendidikan jangan seperti masuk museum, tapi berpikir kedepan, karena orang tua mengamanatkan anaknya untuk dididik dan berhasil di masa depan,” tuturnya.

Di sisi lain Kabupaten Banyumas juga ikut mendukung pendirian UNU Purwokerto.

“Saya hanya bisa katakan, Banyumas siap mendukung dan membesarkan UNU Purwokerto ini beserta Perguruan Tinggi yang ada di sekitar Banyumas, terutama Purwokerto ini,” jelas Bupati Banyumas Achmad Husein.

Dengan diresmikannya UNU Purwokerto, maka kini bertambahlah lembaga Pendidikan Tinggi dari daerah yang terkenal dengan tempe mendhoannya itu. Selain PTN yaitu Unsoed, UNU menjadi salah satu lembaga yang membantu Pemerintah dalam memberikan akses ke Perguruan Tinggi dan mengurangi disparitas.

“Saya harap UNU Purwokerto ini jadi bagian penting dalam memberikan akses berkuliah kepada masyarakat sekitar Purwokerto ini, berkolaborasi, bersaing dalam peningkatan kualitas saja,” ujar Nasir.

UNU Purwokerto juga dituntut untuk segera menapak lebih lagi dengan menyiapkan standar kualitas Pendidikan tinggi yang lebih baik lagi.

“Saya minta UNU Purwokerto ini agar segera memenuhi Pakta Integritas, segera mengajukan akreditasi institusi jika siap, ajukan akreditasi prodi ke BAN-PT, dan tak lupa buat sistem penjaminan mutu internal yang baik,” harapnya.

Terlihat hadir juga pada acara yang diguyur hujan deras itu antara lain adalah Syech Abdul Qodir Assegaf yang akan melakukan istighotsah bersama. (DZI)

Revitalisasi Politeknik Cari Tenaga Kerja Sesuai Kompetensi di Industri

Tue, 02/14/2017 - 13:55

Cilacap – Upaya revitalisasi pendidikan tinggi vokasi terus dilakukan pemerintah. Hal tersebut dalam rangka meningkatkan daya serap dan tenaga kerja terampil dari para lulusan sekolah tinggi atau politeknik di dunia kerja (industri).

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, mengatakan semua lulusan politeknik nantinya akan dapat pekerjaan sesuai kompetensinya dan para industri akan dapat pasokan tenaga kerja kompeten.

Hal ini disampaikan pada kunjungan kerjanya ke Politeknik Negeri Cilacap, Jawa Tengah dalam upaya revitalisasi politeknik. Acara ini juga dihadiri Sekretaris Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek Dikti, Kemenristekdikti, Agus Indarjo, Bupati Cilacap, Tatto Suwarto, Bupati Cilacap Tatto Suwarto, Selasa (14/2).

“Tujuan Revitalisasi Politeknik ini nantinya, para industri dapat pasokan tenaga kerja yang kompeten dari lulusan politeknik yang bersertifikat kompetensi sesuai kebutuhan industri, mahasiswa politeknik juga harus membuat hasil produk bernilai ekonomis (teaching industry) untuk meningkatkan potensi di daerahnya,” ujar Menteri Nasir pada paparannya.

Menteri Nasir menambahkan Kemenristekdikti akan mengeluarkan kebijakan pada tahun 2017 ini, untuk pembangunan yang berfokus pada politeknik. Diantaranya, kurikulum yang akan disesuaikan dengan kebutuhan industri dan mendorong akreditasi yang baik (A), peningkatan kualitas laboratorium, infrastruktur serta dosen yang tidak cukup memiliki kemampuan di bidang akademis saja tetapi kompetensinya juga.

“Saya tekankan, target kami semua lulusan politeknik harus punya sertifikat kompetensi, ijazah pasti. Karena saya yakin lulusan politeknik dapat siap untuk menghadapi persaingan global. Negara bisa maju karena politeknik, saya ingin menjadikan politeknik di garis depan dalam perekonomian Indonesia,” ucapnya dengan semangat di depan ratusan mahasiswa Politeknik Negeri Cilacap itu.

Direktur Politeknik Negeri Cilacap, Soedihono, menyambut baik keinginan Kemenristekdikti dalam upaya revitalisasi pendidikan tinggi vokasi, pada pembukaan acara yang bertema “Menyongsong Revitalisasi Perguruan Tinggi Vokasi Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Bangsa” itu, Soedihono mengatakan akan meningkatkan mutu kompetensi dari para dosennya.
“Dosen-dosen di Politeknik Negeri Cilacap yang sudah mendapat gelar S1 terapan, akan saya kirim untuk melanjutkan pendidikannya lebih lanjut, baik didalam negeri maupun luar negeri. Saya juga akan mendatangkan dosen-dosen dari industri nantinya,” imbuh Soedihono.

Soedihono juga menyampaikan terkait arahan Menristekdikti agar lulusan politeknik nantinya dapat membantu meningkatkan potensi dan ekonomi di daerahnya.

“Tekad saya, lulusan politeknik akan mampu menghasilkan barang modal untuk mengurangi import yang saat ini kota cilacap masih tinggi dalam hal import barang modal dan lulusan kami akan punya kompetensi yang baik untuk siap di industri, siap kerja, dan mampu bersaing,” ujarnya.

Kunjungan kerja di Politeknik Negeri Cilacap ini, Menristekdikti juga menyempatkan diri untuk melihat fasilitas di ruang laboratorium teknik mesin dan menanam pohon kelengkeng merah di taman Politeknik Negeri Cilacap. (tls/ard)

Kemenristekdikti Gelar Workshop KEMITRAAN RISTEKDIKTI – ARISA PROGRAM dan SISTEM INOVASI

Tue, 02/14/2017 - 10:40

Kemenristekdikti Gelar Workshop

KEMITRAAN RISTEKDIKTI – ARISA PROGRAM dan SISTEM INOVASI

 

Dalam rangka memperkuat jaringan antara lembaga penelitian dan industri di Indonesia RISTEKDIKTI dan AUSTRALIA bekerja sama dalam program ARISA (Applied Research and Innovation Sustems in Agriculture)  dan implementasi dari penandatanganan kerja sama antara Direktorat Jenderal Penguatan inovasi dan Badan Riset Commonwealth untuk ilmu pengetahuan inovasi serta Badan Riset Commonwealth untuk ilmu pengetahuan dan Industri di bidang Riset terapan dan system inovasi dalam bidang Pertanian (ARISA)  pada tanggal 22 Nopember 2016, mengadakan Workshop kemitraan RISTEKDIKTI – pada Kamis s.d  Jumat (9-10 Pebruari 2017). Kegiatan yang diselenggarakan di gedung II BPPT ini merupakan langkah awal kemitraan Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi dan CSIRO dalam Program ARISA.

Tidak hanya dihadiri oleh peserta dari lingkungan Kemenristekdikti, workshop yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi, dihadiri pula oleh perwakilan dari Universitas Gajah Mada dan lembaga kebijakan inovasi.

Tujuan diadakannya workshop ini adalah sebagai lesson learn antara RISTEKDIKTI dan ARISA untuk memperkuat jaringan Lembaga Penelitian dan Industri. Memberikan capacity building kepada pelaku kebijakan tentang bagaimana skema internasional dalam memperkuat jaringan lembaga penelitian dan industri serta menyusun rencana kerja antara Ristekdikti dan ARISA sampai dengan akhir tahun 2018. Ini adalah titik awal untuk melaksanakan Perjanjian yang telah disepakati antara Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi dan CSIRO dalam program Arisa, demikian Jumain Appe dalam sambutannya.

              Workshop yang diawali dengan pembukaan Dirjen Penguatan Inovasi dan Group leaders on Agriculture and Innovation, Prof Andy Hall, dilanjutkan dengan presentasi internasional best practices dan lesson untuk penguatan kemitraan Lembaga penelitian dan industri. Materi lainnya yaitu kerangka kerja Monitoring, evaluasi dan learning. Dilaksanakan pula penyusunan rencana kerja sama yang bertujuan untuk mengembangkan dan pilot implementasi untuk monitoring dan evaluation learning (MEL) dalam rangkak memperkuat skema penguatan intermediasi dan mengidentifikasi rekomendasi untuk penguatan program management design./DSK/DPI

Cyber University Harus Dipandang Sebagai Alat Tingkatkan Kualitas Pembelajaran

Sat, 02/11/2017 - 16:16

Jakarta – Pendidikan dengan teknologi cyber university harus dipandang sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, jangan dipandang sebagai alat yang memudahkan, tetapi untuk memotivasi dalam mengikuti pembelajaran yang berbasis pada internet demi mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih baik lagi.

Pesan ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti, Ainun Na’im, dalam acara peresmian Gedung Menara Universitas Nasional (UNAS) untuk pendidikan pascasarjana dan penandatanganan surat perjanjian antara Cyber Hankuk University of Foreign Studies-Korea dengan UNAS dalam hal kerjasama mendirikan Cyber University (Perguruan Tinggi Digital) di UNAS, Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (11/2).

Sesjen Kemenristekdikti mengatakan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya yang berkaitan dengan cyber teknologi dan komunikasi telah mengubah hampir semua aspek kehidupan manusia ditengah percepatan persaingan ekonomi di dunia.

“Kita tidak bisa lagi melaksanakan pendidikan tinggi seperti yang dilakukan pada masa lalu, teknologi sekarang semakin cepat berubah dipicu karena data yang semakin besar kemudian terbuka khususnya pada ilmu pengetahuan dan teknologi,” tutur Ainun dalam sambutannya.

Dirinya menambahkan, ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mudah untuk diakses siapapun, seperti halnya, riset, jurnal ilmiah, dan segala informasi lainya, hampir pada universitas besar menyediakan akses online yang bertujuan memudahkan akses bagi mahasiswa. UNAS diharapkan dapat mengikuti perkembangan teknologi yang begitu cepat untuk bisa bersaing dengan Perguruan Tinggi besar lainnya.

Cyber University yang proses belajar mengajarnya tanpa tatap muka, tidak berarti tidak ada interaksi dengan dosen, interaksi pasti ada, ujian pasti ada, sehingga dengan teknologi ini mahasiswa diharapkan meningkatkan kualitas dan kompetensi yang lebih baik lagi, jadi ketika lulus, mereka harus dapat skill, knowledge, dan apa yang mereka bisa kuasai untuk modal masa depan mereka,” ucapnya.

Rektor UNAS, El Amry Bermawi Putera menyampaikan, Cyber University memiliki konsep kuliah jarak jauh tanpa tatap muka yang memanfaatkan penggunaan teknologi infomasi dan internet, di luar negeri konsep ini sudah lama diterapkan.

Menurutnya, dalam rangka menyeratakan dan memudahkan akses Pendidikan Tinggi di Indonesia, dirinya mengatakan teknologi cyber university diharapkan dapat menjadi akses bagi anak bangsa yang berada di pelosok tanah air.

“Mahasiswa hampir sebagian besar memiliki smartphone, cyber university ini bisa menjadi akses yang memudahkan bagi mahasiswa untuk belajar di kelas melalui smartphone mereka nantinya,” ujar Rektor Amry.

Sekjen Kemenristekdikti, Ainun Na’im menyambut baik kerjasama mendirikan Cyber University (Perguruan Tinggi Digital) dan mendukung dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat.

“Saya harap ini dapat memberikan kesempatan kepada banyak anak bangsa untuk bisa mengenyam Pendidikan Tinggi dan kedepan akan mampu menambah mutu pendidikan demi mencipatkan lulusan yang berkualitas,” tuturnya. (ard)

Wisuda Adalah Langkah Awal Menuju Dunia Nyata

Thu, 02/09/2017 - 15:37

CIREBON – Kamis (09/02) Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menghadiri prosesi wisuda sarjana Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Cirebon ke-II tahun ajaran 2016-2017 yang digelar di Hall Hotel Aston Cirebon. Selain dihadiri oleh Menteri Nasir, wisuda UNU Cirebon juga di hadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mizwar, Irjen Polisi Iza Fadri selaku Staf Ahli Kapolri yang mewakili Jenderal Polisi Tito Karnavian yang berhalangan hadir.

Pada wisuda ke-II UNU Cirebon meluluskan sebanyak 365 mahasiswa yang terdiri dari 31 wisudawan dari Fakultas Agama, 23 wisudawan dari Fakultas Ekonomi , 24 wisudawan dari Fakultas Hukum, 37 wisudawan dari Fakultas Ilmu Komputer, dan 246 wisudawan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Aqil Siraj Selaku Rektor UNU Cirebon berpesan pada semua wisudawan agar para wisudawan mampu mengembangkan segala ilmu pengetahuan yang mereka miliki dan juga mampu membangkitkan, menumbuhkan, serta mengembangkan berbagai dimensi kecerdasan. Selain itu Aqil juga tidak lupa untuk mengingatkan kepada para wisudawan untuk menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak, dan hormat pada ulama. “Karena hanya mereka yang tangguh dan berakhlak mulia yang mampu bertahan dan bersaing dengan para lulusan bukan hanya dari Cirebon, Jawa Barat, dan Indonesia, tetapi juga mampu bersaing dengan petinggi asing,” ujar Aqil.

Menurut Dedi Mizwar, momentum strategis ini mampu melahirkan kader intelektual yang paripurna, tinggi akhlak, bermoral, dan agamis, yang siap memberikan kontribusi yang optimal terhadap Jawa Barat secara menyeluruh maupun indonesia pada umumnya. Pembentukan karakter manusia yang unggul dan berkepribadian mumpuni dengan dilandasi nilai keimanan dan ketakwaan dewasa ini tidaklah mudah, karena itu didalam pelaksanaan membutuhkan sumbangan pikiran yang konstruktif dari kalangan intelektual untuk dapat menjabarkan berbagai program pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Oleh karenanya, kehadiran lembaga-lembaga pendidikan yang berbasis agama seperti ini sangat disyukuri karena diharapkan dapat menjadi penggerak sekaligus pendamping masyarakat yang secara profesional, tulus, dan ikhlas memberdayakan diri bagi terwujudnya cita-cita bersama, yaitu Jawa Barat yang maju dan sejahtera.

Menteri Nasir berharap lulusan UNU Cirebon dapat bersaing di kelas dunia, dan Nasir menjamin para lulusan UNU yang ingin melanjutkan studi S2 di perguruan tinggi terbaik dunia akan dibiayai oleh beasiswa yang disediakan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dengan syarat memiliki nilai TOEFL diatas 550.

Lebih lanjut, Nasir mengemukakan bahwa saat ini adalah langkah awal untuk menuju dunia nyata. “Selama masa perkuliahan, wisudawan belum melihat dunia nyata,” ujarnya.

Dunia nyata dimana selalu mendapati persaingan, selalu banyak tekanan, dan dalam persaingan tersebut hanya orang-orang kompeten yang mampu memenangkannya. Oleh karena itu, besar harapan Nasir para wisudawan memiliki kompetensi yang telah dibangun dengan kurikulum yang sesuai dengan bidang-bidang yang dikembangkan oleh UNU.

Terakhir Nasir berpesan, “anda adalah calon pemimpin masa depan, rubahlah dunia ini dengan kemampuan yang anda miliki dengan membawa rahmatan lil alamin. mudah-mudahan mampu bersaing di dunia internasional.” (TJS)

Menjajaki Kerjasama Akademi Komunitas dengan Michigan Community College

Thu, 02/09/2017 - 03:47

JAKARTA – Rabu (08/02), Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) Intan Ahmad menerima 14 orang delegasi akademi komunitas (Community College) di bawah Michigan State University. Delegasi dipimpin oleh Carol Stax Brown, sebagai Direktur Global Intiative.

Kedatangan delegasi, seperti diungkapkan oleh Carol, secara umum bertujuan untuk menjajaki kemungkinan kerjasama dan program bersama terkait dengan internasionalisasi mata kuliah bisnis dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Lebih khusus lagi dalam konteks akademi komunitas.

Dalam pertemuan tersebut juga dihadiri oleh perwakilan fakultas ekonomi-bisnis dari Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Gajah Mada, Universitas Prasetya Mulya, dan Universitas Bina Nusantara. Masing-masing menawarkan kemungkinan kerjasama dalam beberapa hal, diantaranya alih kredit (credit transfer), pertukaran mahasiswa (student exchange), joint curriculum, pertukaran staf (faculty exchange), pertukaran professor (professor mobility), study abroad, dan lain-lain.

Intan Ahmad mengusulkan kemungkinan kerjasama dalam hal kewirausahaan dan pola pikir kewirausahaan serta kepemimpinan, termasuk juga didalamnya general education. Hal ini disampaikan mengingat pola pikir kewirausahaan (entrepreunership mindset) dan leadership sangat penting, untuk menghasilkan sumber daya yang mampu bersaing dalam era masyarakat ekonomi asia, bahkan masyarakat abad 21 yang dibingkai terintegrasi dengan penerapan general education.

Dayung bersambut, ide-ide positif tersebut merupakan kepentingan bersama bagi kedua belah pihak. Pertemuan menghasilkan rencana tindak lanjut berupa Memorandum of Understanding (MoU) secara lebih detil baik antar pemerintah maupun antar universitas (U to U). Sebagai bentuk konkrit tindak lanjut hasil pertemuan tersebut, dihasilkan draft MoU yang akan segera dipelajari dan dielaborasi secara lebih rinci oleh masing-masing pihak. Dalam hal ini adalah pihak Dirjen Belmawa, enam universitas seperti tersebut di atas, dan pihak Michigan Community College itu sendiri. Dalam tempo dua bulan diharapkan MoU sudah mengkerucut, fokus dan menjadi kesepakatan bersama untuk ditandatangani. (UACH/Belmawa)

Gedung Baru, Inspirasi Baru Civitas Akademika UNJ

Wed, 02/08/2017 - 21:45

JAKARTA – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) meresmikan dua gedung baru Universitas Negeri Jakarta (UNJ) siang tadi, Rabu (8/2). Gedung tersebut adalah Gedung K.H. Hasjim Asj’arie dan Gedung Bung Hatta.

“Semoga kehadiran kedua gedung ini dapat bekerja optimal untuk mencerdaskan anak bangsa melalui kiprah UNJ dalam menyelenggarakan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ujar Rektor UNJ Djaali.

Djaali juga menjelaskan bahwa kehadiran kedua gedung ini sangat dinanti-nantikan oleh segenap civitas UNJ, karena dengan hadirnya kedua gedung ini akan terjadi perluasan daya tampung. Selain itu, kehadiran kedua gedung ini akan mampu memberi fasilitas kegiatan praktikum MIPA.

“Dan yang lebih penting lagi, untuk pertama kalinya Para Guru Besar UNJ yang tidak memiliki tugas tambahan akan mempunyai ruang kerja sendiri di Gedung Bung Hatta,” tambahnya.

Dalam sambutannya Menteri Nasir mengatakan bahwa semoga dengan adanya peresmian gedung ini dapat memberikan manfaat dan memberikan inspirasi bagi para penghuni dalam gedung tersebut untuk mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Bung Hatta dan K.H. Hasjim Asj’arie.

“Saya harap dari nama gedung tersebut dapat memberi inspirasi untuk selalu berpikir tentang kerakyatan dan memberikan perilaku yang baik,” tutup Nasir. (FLH)

Pengembangan PUI Harus Beri Manfaat Bagi Kemaslahatan Bangsa

Wed, 02/08/2017 - 17:14

JAKARTA – “Pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI) harus beri manfaat bagi kemaslahatan bangsa.” Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti, Patdono Suwignjo saat membuka Rapat Kerja Pengembangan PUI Tahun 2017, di Auditorium lantai 2 Gedung D Kemenristekdikti, Jakarta, Rabu (8/2/2017).

Pada tahun 2016 pencapaian PUI sangat signifikan di berbagai bidang. Berdasarkan data yang ada, terdapat 253 undangan menjadi pembicara dan pemakalah pada konferensi international, 291 publikasi dalam jurnal nasional terakreditasi, 149 publikasi dalam jurnal international dan 33 lulusan S3 sesuai fokus riset unggulan.

Prestasi lain, tercapainya 40 paten baik yang granted maupun terdaftar, 196 kerjasama riset pada tingkat nasional dan international, terwujudnya 1.014 kerjasama non riset pada basis keunggulan lembaga, dan 128 kontrak bisnis dengan industri

Pencapaian prestasi tersebut tidak hanya dilakukan secara individu saja, namun dengan kerja keras para pegiat iptek bersama dengan Direktorat Lembaga Litbang Kemenristekdikti untuk menjadikan PUI bermanfaat bagi masyarakat.

“Ini tanggung jawab kita di dalam menjalankan tugas, meskipun sasaran yang dibebankan pemerintah terhadap kita pertama kali adalah untuk mencapai target, tetapi yang lebih tinggi dari itu adalah kita memiliki tanggung jawab kepada rakyat,” tegasnya.

Patdono menambahkan, “jika hanya tanggung jawab minimal sudah memenuhi target, sekarang bagaimana tanggung jawab kita terhadap bangsa, kepada masyarakat Indonesia supaya pengembangan PUI ini memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemaslahatan bangsa maupun masyarakat Indonesia.”

Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti sangat mengapresiasi kinerja lembaga litbang, yang mensinergikan para pegiat iptek melalui PUI.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak ibu yang tergabung dalam PUI, karena key performace indicators yang diminta pemerintah kepada Kemenristekdikti, khususnya di Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti, khususnya lagi di PUI prestasi kita sangat luar biasa,” ujarnya yang disambut tepuk tangan meriah sekitar 150 peserta dan tamu yang hadir.

Sementara itu Direktur Lembaga Litbang Kemal Prihatman mengatakan hingga tahun 2017 telah tergabung 68 PUI,  yang terdiri dari 48 PUI Litbang dan 20 PUI Perguruan Tinggi (PUI – PT).

Ia mengatakan kegiatan rapat kerja ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman lembaga PUI terkait skema, mekanisme dan tahapan pelaksanaan kegiatan pengembangan PUI tahun 2017, sekaligus mendukung hasil kinerja lembaga yang unggul, inovatif dan berdayasaing. (NF-SN/KL)

Pengembangan PUI Harus Beri Manfaat Bagi Kemaslahatan Bangsa

Wed, 02/08/2017 - 15:58

“Pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI) harus beri manfaat bagi kemaslahatan bangsa.” Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti,   Patdono Suwignjo saat membuka Rapat Kerja Pengembangan PUI Tahun 2017, di Auditorium lantai 2 Gedung D Kemenristekdikti, Jakarta, Rabu (8/2/2017).

Pada tahun 2016 pencapaian PUI sangat signifikan di berbagai bidang. Berdasarkan data yang ada, terdapat 253 undangan menjadi pembicara dan pemakalah pada konferensi international, 291 publikasi dalam jurnal nasional terakreditasi, 149 publikasi dalam jurnal international dan 33 lulusan S3 sesuai fokus riset unggulan.

Prestasi lain, tercapainya 40 paten baik yang granted maupun terdaftar, 196 kerjasama riset pada tingkat nasional dan international, terwujudnya 1.014 kerjasama non riset pada basis keunggulan lembaga, dan 128 kontrak bisnis dengan industri

Pencapaian prestasi tersebut tidak hanya dilakukan secara individu saja, namun dengan kerja keras para pegiat iptek bersama dengan Direktorat Lembaga Litbang Kemenristekdikti untuk menjadikan PUI bermanfaat bagi masyarakat.

“Ini tanggung jawab kita di dalam menjalankan tugas, meskipun sasaran yang dibebankan pemerintah terhadap kita pertama kali adalah untuk mencapai target, tetapi yang lebih tinggi dari itu adalah kita memiliki tanggung jawab kepada rakyat,” tegasnya.

Patdono menambahkan, “jika hanya tanggung jawab minimal sudah memenuhi target, sekarang bagaimana tanggung jawab kita terhadap bangsa, kepada masyarakat Indonesia supaya pengembangan PUI ini memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemaslahatan bangsa maupun masyarakat Indonesia.”

Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan dikti sangat mengapresiasi kinerja lembaga litbang, yang mensinergikan para pegiat iptek melalui PUI.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak ibu yang tergabung dalam PUI, karena key performace indicators yang diminta pemerintah kepada Kemenristekdikti, khususnya di Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti, khususnya lagi di PUI prestasi kita sangat luar biasa,” ujarnya yang disambut tepuk tangan meriah sekitar 150 peserta dan tamu yang hadir.

Sementara itu Direktur Lembaga Litbang Kemal Prihatman mengatakan hingga tahun 2017 telah tergabung 68 PUI,  yang terdiri dari 48 PUI Litbang dan 20 PUI Perguruan Tinggi (PUI – PT).

Ia mengatakan kegiatan rapat kerja ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman lembaga PUI terkait skema, mekanisme dan tahapan pelaksanaan kegiatan pengembangan PUI tahun 2017, sekaligus mendukung hasil kinerja lembaga yang unggul, inovatif dan berdayasaing. (Firly/sn)

Dampak Kerangka Kualifikasi dan Standar Jaminan Mutu Regional di Perguruan Tinggi (4th SHARE National Workshop)

Tue, 02/07/2017 - 13:24

JAKARTA – Dalam rangka memperkuat kerja sama regional, meningkatkan mutu dan  daya saing, harmonisasi, serta mendukung saling pengertian antara Pendidikan Tinggi Eropa dengan institusi Pendidikan Tinggi di ASEAN, Ditjen Belmawa bekerjasama dengan SHARE menyelenggarakan workshop nasional dengan tema  Dampak Kerangka Kualifikasi dan Standar Jaminan Mutu Regional di Perguruan Tinggi Indonesia pada Senin-Rabu, tanggal 6-7 Februari  2017 di Jakarta. SHARE adalah sebuah konsorsium British Council (lead), Campus France, Jerman Academic Exchange Service (DAAD), Nuffic, Asosiasi Eropa untuk Quality Assurance di Perguruan Tinggi (ENQA) dan Asosiasi Universitas Eropa (EUA).

Setidaknya sebanyak 100 peserta hadir dari berbagai Instansi dan Perguruan Tinggi dalam acara yang diselenggarakan di Grand Ballroom Hotel InterContinental Jakarta. Workshop ke-empat SHARE ini dimaksudkan untuk memperkuat kerjasama regional, meningkatkan kualitas, daya saing dan internasionalisasi institusi pendidikan tinggi dan mahasiswa ASEAN serta  kontribusi terhadap Komunitas ASEAN. SHARE tentunya fokus pada tiga bidang hasil, di antaranya peningkatan Kualifikasi Frameworks (QFS) dan Quality Assurance (QA). Para peserta berasal dari Perguruan Tingi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia, Asosiasi Profesi  dan Institusi Pemerintahan. 

SHARE diluncurkan pada bulan Mei tahun 2015 di Jakarta dan akan berakhir pada sekitar awal tahun 2019. Dampak yang diharapkanpada akhir 2019 adalah adanya peningkatan mobilitas mahasiswa antar negara ASEAN melalui Kerangka Kualifikasi yang sudah diperbaiki, Penjaminan Mutu, Sistem Transfer Kredit se-ASEAN, dan skema beasiswa. Kemudian adanya. Perbaikan kesamaan dalam kesempatan untuk pertukaran mahasiswa antar negara kawasan ASEAN. Dan terakhir terjalinnya ikatan yang kuat antar universitas se-ASEAN dan peningkatan kerja sama antar universitas Uni Eropa-ASEAN. SHARE tentunya berfokus pada tiga bidang hasil, di antaranya peningkatan Kualifikasi Frameworks (QFS) dan Quality assurance (QA).

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi (sesuai dengan Peraturan Menristekdikti No.62 Tahun 2016)  adalah kegiatan sistemik untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara berencana dan berkelanjutan. SPM Dikti ini berfungsi mengendalikan penyelenggaraan pendidikan tinggi oleh perguruan tinggi untuk mewujudkan pendidikan tinggi yang bermutu. Dengan demikian, mutu pendidikan tinggi dapat didefinisikan sebagai pencapaian tujuan perguruan tinggi yang meliputi tridarma perguruan tinggi. Sedangkan, pengukuran ketercapaiannya dilakukan dengan menggunakan exceptional approach dengan tiga jenis katagori: 1) kualitas unggul, 2) baik sekali dan 3) baik.

Disparitas Kualitas

Intan Ahmad, Dirjen Belmawa Kemristekdikti, dalam sambutan acara dan sekaligus sebagai narasumber menyampaikan bahwa institusi Pendidikan Tinggi kita masih perlu peningkatan mutu karena masih tingginya disparitas. “Kita bisa lihat jumlah perguruan tinggi yang berjumlah 4,537 dengan program studi sebanyak 25,059, dan 265,732 dosen namun  kurang darpada 10 % dosen berpendidikan doktoral. Jumlah mahasiswanya sekitar 6,5 juta, 746,000 diantaranya adalah vokasional/politeknik. Hanya 50 Institusi Pendidikan tinggi yang medapatkan akreditasi A (kualitas Unggul), 347 terakreditasi B (baik sekali) dan selebihnya dengan nilai C (baik). Disamping itu , terdapat Perguruan Tinggi  yang memiliki akreditasi internasional sperti  ABET, AACSB. Hanya ada 3 (tiga) universitas yang masuk dalam kategori world class university  di level 500,” terang Intan lebih lanjut.

Lebih jauh, Intan menjelaskan bahwa dengan program prioritas yang sudah disiapkan dalam kurun 2015-2019 sebagai strategic objectives. “Kita fokuskan pada 5 hal. Misalnya, adalah bagaimana peningkatan kualitas Institusi pendidikan Tinggi dicapai.Tentu kita dorong agar Institusi Pendidikan Tinggi dapat memilikii akreditasi Internasional, sementara untuk Nasional,  Ada akreditasi Universitas, juga akreditasi program studi dan tentu untuk  para lulusan PT, ada Uji Kompetensi Profesi. Yang lain, misalnya terkait Peningkatan apa yang disebut “Relevansi”. Lulusan PT dan Bursa Kerja harus relevan. Kebutuhan lulusan PT harus sesuai dengan kebutuhan Pasar Kerja”.  ungkap guru besar ITB ini.

Beberapa presentasi disampaikan dalam workshop ini antara lain Megawati Santoso dan Andrea Bateman yang membahas tentang ASEAN Qualification Reference Framework yang disingkat dengan AQRF (Kerangka Kualifikasi Referensi ASEAN). Mega menekankan pentingnya membangun sebuah zona ASEAN yang memfasilitasi mutual recognition (saling pengakuan) dari pekerjaan dan kualifikasi keterampilan dalam pasar tenaga kerja ASEAN dan mobilitas masyarakat. Mega menambahkan untuk dapat lebih memahami kualifikasi mutu pendidikan tinggi, perlunya fasilitasi keselarasan NQF (National Quality Framework) untuk keselarasan AQRF sebagai mekanisme untuk pengakuan terhadap QF regional lainnya. NQF sendiri dimaknai sebagai sebuah sistem formal yang menjelaskan kualifikasi. 47 negara yang berpartisipasi dalam Bologna Process, berkomitmen menghasilkan  kerangka kualifikasi nasional. Negara-negara lain yang  bukan bagian dari proses ini juga memiliki kerangka kualifikasi nasional.

Zita Mohd Fahmi, Secretary ASEAN Quality Assurance Network (AQAN) dalam pencerahannya di acara workshop ini lebih banyak bercerita tentang keterkaitannya Quality Assurance dengan ASEAN Charter yang mengembangkan sumber daya manusia dan  Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang menggarisbahawahi kebutuhan gerakan pekerja terampil dan pebisnis.  Sementara Narasumber lain seperti dari UGM, UI dan ITB lebih menitik beratkan pada pengalaman mereka dalam mendisain kerangka kurikulum yang didasarkan pada keputusan rektor yang mengacu pada UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia sesuai dengan Perpres No.8 Tahun 2012. Selain itu, Mereka juga mengejar target agar tercapai akreditasi Internasional dan benchmarking, melakukan partnership dengan perguruan tinggi nasional dan internasional dan tentu peningkatan “on Relevancy”  agar ada link and match dengan pasar kerja.

Melalui workshop nasional ini, diharapkan nantinya akan dihasilkan kebijakan dan terobosan-terobosan baru dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi  antar ASEAN dan Uni Eropa melalui berbagai kerjasama yang dilakukan secara bersama sama. (AS/Belmawa)

Indonesia dan Finlandia bersama memajukan kualitas riset,  inovasi dan pendidikan tinggi

Tue, 02/07/2017 - 10:35

Jakarta – Duta Besar Finlandia YM Paivi Hiltunen-Toivio, didampingi oleh Dr.  Pasi Kaskinen, ‘Excutive Vice President, Finland University’, Dr. Minna Makihonko, ‘Senior Adviser Finland University Colleagues’, Prof.  Hafid Abas melaksanakan kunjungan kehormatan kepada YM Prof Mohamad Nasir,  Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), di Gedung Kemenristekdikti, Jakarta Pusat, Selasa (7/2).

Dalam diskusi tersebut, Menristekdikti Nasir memberikan apresiasi kepada Pemerintah Finlandia,  karena sejak ditanda-tanganinya Perjanjian Kerjasama Ilmu Pengetahuan,  Teknologi dan Inovasi bersama Menteri Krista Kiuru, Menteri Pendidikan dan Komunikasi Finlandia di Helsinki 26 April 2015, telah banyak kemajuan yang dihasilkan.

Adapun hasil pertemuan dan perjanjian ini ditindak lanjuti dengan; (i) Lokakarya bersama tentang pengembangan riset bis listrik dan ‘power generation unit (PGU) di Indonesia, (ii) kunjungan pimpinan Perguruan Tinggi ke Finlandia (UNHAS,  UGM,  UPI,  UI, IPB) yang tertarik untuk mendalami bidang riset dan pendidikan pertanian,  lingkungan hidup,  kesehatan,  teknologi informasi dan komunikasi, September 2015. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Prof Ainun Na’im, (iii) Pertemuan dan diskusi tentang revitalisasi pendidikan tinggi: ‘enhancing the quality of teaching in Indonesia’,  dimana Dr.  Pasi dari ‘University of Finland’ menginformasikan bahwa sejumlah perguruan tinggi Indonesia telah menjalin kerjasama pendidikan tinggi di Finlandia,  dan merencanakan akan diadakan ‘Kick off’ di akhir Februari atau awal Bulan Maret 2017.

Menristekdikti Nasir menyambut gembira rencana tersebut, dan menunjuk Direktur Jenderal Kelembagaan IptekDikti Dr Patdono Soewignyo dan Direktur Jenderal Pembelajaran dan Mahasiswa Prof. Intan Ahmad untuk menindak lanjuti program ini.

Lebih lanjut Direktur Jenderal Patdono Soewignyo mengatakan bahwa inisiatif ‘revitalisasi program pendidikan tinggi,  khususnya untuk pendidikan tinggi vokasi’ akan menentukan masa depan generasi emas bangsa Indonesia dan saat ini di Indonesia merupakan program utama.  Finlandia yang dikenal sangat maju dalam bidang pendidikan,  diyakini akan menjadi salah satu mitra handal Indonesia dalam pelaksanaan program revitalisasi pendidikan tinggi, termasuk pendidikan tinggi vokasi. (NM)

Meningkatkan Penjaminan Mutu Melalui SHARE

Mon, 02/06/2017 - 13:23

JAKARTA Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia kembali melakukan kerja sama untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di ASEAN. Kali ini, bentuk kerja sama tersebut diwujudkan dalam 4th SHARE National Workshop On The Impact of Qualifications Framework and Regional Quality Assurance Standards on Indonesian Higher Education yang diselenggarakan mulai pagi tadi (6/2) di Ballroom InterContinental Hotel Jakarta. 

SHARE merupakan sebuah platform yang dibentuk oleh Uni Eropa yang bertujuan untuk mengharmonisasikan pendidikan tinggi di ASEAN. Dalam hal ini, SHARE menyasar kualitas dan mobilitas pendidikan tinggi serta mahasiswa lulusan pendidikan tinggi yang nantinya akan menjadi penggerak utama bisnis dan ekonomi dalam menghadapi kompetisi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Untuk itulah dalam workshop yang diselenggarakan selama 3 hari ini seluruh peserta saling bertukar pikiran dan melakukan diskusi sebagai upaya meningkatkan Kerangka Kerja Kualifikasi (Qualifications Frameworks/QFs) dan Penjaminan Mutu (Quality Assurance/QA) di ranah pendidikan tinggi.

Membuka kegiatan tersebut, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Intan Ahmad menyampaikan bahwa fokus utama dari SHARE adalah pada capaian pembelajaran di Pendidikan Tinggi, sebagai elemen utama dalam kerangka kerja kualifikasi.

“Hal yang masih sangat perlu ditingkatkan di Pendidikan Tinggi di Indonesia dan ASEAN pada umumnya adalah budaya mutu. Peningkatan mutu pendidikan tinggi tidak hanya dilihat dari akreditasi saja, namun juga dari capaian pembelajaran, dimana lulusan yang dihasilkan harus memenuhi kebutuhan pasar kerja,” lanjutnya.

Kegiatan workshop ini akan dibuka dengan perkenalan mengenai SHARE dan program-programnya oleh Ketua SHARE, dan dilanjutkan dengan beberapa sesi diskusi. Sesi pertama akan membahas kerangka kerja Pendidikan Tinggi di ASEAN serta kerangka kerja dan sistem penjaminan mutu di ASEAN dan Indonesia, dan dilanjutkan dengan sesi pembahasan mengenai harmonisasi standar nasional dan regional dalam penjaminan mutu. Pada hari kedua, sesi diskusi kembali dilakukan dengan membahas kerangka kerja kualifikasi dalam sistem penjaminan mutu dan kaitannya serta kerangka kerja kualifikasi dari sudut pandang pengguna dengan mempertimbangkan kebutuhan industri serta dampak potensial dari rancangan kurikulum di pendidikan tinggi. Sesi dilanjutkan dengan diskusi panel mengenai standar kebutuhan masyarakat dengan mengkaitkan capaian pembelajaran dan tingkat referensi, hingga diskusi mengenai kerangka kerja regional dan perlunya kerja sama serta kepercayaan dalam negara-negara ASEAN. Workshop ditutup dengan pelatihan mengenai penggunaan capaian pembelajaran dalam pendidikan tinggi. (DRT/Belmawa)

Mahasiswa Harus Mendukung Peningkatan National Competitiveness

Sat, 02/04/2017 - 23:43

JAKARTA – Mencapai Millenium Development Goals, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) didampingi oleh Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) menghimbau para pemuda untuk turut berperan dalam menjaga stabilitas politik demi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di negara Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Menristekdikti M. Nasir dalam paparannya di Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Dewan Pimpinan Nasional Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (DPN Gemasaba), Sabtu (04/02).

Dalam kesempatan tersebut, Nasir menyampaikan kepada seluruh mahasiswa yang terhimpun dalam Gemasaba agar bersifat kritis dengan cara yang baik dan benar, untuk mendukung perkembangan Pendidikan Tinggi dalam meningkatkan national competitiveness. “Saya yakin di antara adik-adik sekalian nantinya akan menjadi pemimpin masa depan, asalkan terus kerja keras, disiplin, dan jujur,” tegasnya.

Masih dalam suasana musyawarah yang kondusif, beberapa perwakilan mahasiswa bertanya mengenai beasiswa untuk mahasiswa yang berprestasi namun tidak mampu secara ekonomi, terutama yang berasal dari daerah-daerah yang masih kekurangan akses.

Menjawab pertanyaan tersebut, Dirjen Belmawa Intan Ahmad menjelaskan bahwa Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi melalui Direktorat Jenderal Belmawa memiliki program beasiswa yang dapat membantu mahasiswa-mahasiswa berprestasi dalam melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi yang baik, yaitu melalui beasiswa Bidikmisi, beasiswa PPA, dan program beasiswa untuk daerah 3T.

“Adik-adik harus selalu mengembangkan kreatifitas. Jika memang beasiswa yang bersumber dari pemerintah jumlahnya dirasa terbatas dan adik-adik belum dapat menjangkau kesempatan tersebut, masih banyak sumber beasiswa lain dari kampus atau pihak swasta, asalkan adik-adik mau secara proaktif mencari tahu. Seluruh pemuda seharusnya bisa melanjutkan pendidikan tinggi, dan banyak jalan untuk menuju ke sana,” lanjut Intan.

Menutup pertemuan tersebut, Menteri Nasir berpesan kepada seluruh mahasiswa Gemasaba agar menjadi mahasiswa yang berkualitas dan bisa menggerakkan bangsa serta membela kebenaran.

Membangun Sinergi, Pererat Kolaborasi Ristekdikti Indonesia dan Perancis

Fri, 02/03/2017 - 21:44

JAKARTA – Indonesia dan Perancis telah menandatangani Perjanjian Iptek antar kedua Negara dari tahun 1979. Sejak itu, telah banyak kerjasama Iptek dan Inovasi yang telah dilakukan.

Salah satunya adalah penciptaan Program Nusantara yang telah dibangun sejak tahun 2008. Semenjak program ini diluncurkan, kemitraan Ristek dan Inovasi terus bergulir, yang mengakibatkan jumlah kerjasamanya semakin meningkat.

Program Nusantara Indonesia Perancis, yang berdasarkan pertukaran peneliti antara kedua Negara, dimulai dengan harapan agar para Peneliti dari kedua Negara dapat menimba ilmu dan pengalaman dari negara tujuan, selama menjalani program mobilitas ini.

Program Nusantara ini juga sekarang dikembangkan menjadi program riset bersama, maupun riset konsorsium antara ke dua Negara, disamping terus menjalankan program pertukaran peneliti (mobility program).

Hari ini, Jum’at, 3 Februari 2017, Duta Besar Perancis YM Mr. Jean-Charles Berthonnet, melakukan kunjungan kehormatan kepada Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof. Mohamad Nasir, yang didampingi antara lain oleh Sekretaris Jenderal Ainun Na’im, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati.

Dalam diskusi, kedua belah pihak saling memberikan apresiasi atas semua upaya yang telah diberikan, serta atas keberlangsungan hubungan bilateral Indonesia Perancis di bidang Iptekdikti.

Dubes Perancis menginformasikan rencana kedatangan Kepala Negara Perancis ke Indonesia pada tahun 2017. Menteri Nasir menangkap peluang tersebut dan mengemukakan pentingnya pembaharuan Persetujuan Kerjasama Iptek dan Pendidikan Tinggi saat ini. ‘Tujuh plus satu’ adalah are fokus riset Indonesia saat ini, mencakup pertanian dan pangan, kesehatan dan obat-obatan, energi (alternatif dan terbaharukan), teknologi informasi dan komunikasi, material maju termasuk nanoteknologi, teknologi pertahanan, serta maritim. Menristekdikti Nasir mengundang mitra mancanegara, termasuk Perancis untuk sama-sama mengembangkan kerjasama dalam bidang-bidang prioritas tersebut.

Dalam bidang pendidikan tinggi, kedua Negara bersepakat untuk mengadakan pertemuan Komite Pendidikan Tinggi yang juga akan melibatkan riset, di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta pada tanggal 3-4 Mei 2017.

Diharapkan pada pertemuan tersebut akan teridentifikasi kerjasama-kerjasama strategis yang akan menguntungkan generasi muda dari kedua Negara, termasuk diantaranya kerjasama dalam bidang pendidikan tinggi vokasi, beasiswa Master dan Doktor, program wiraswasta dan ‘technoentrepreneurship’ untuk mahasiswa dan mahasiswi Indonesia dan Perancis. (NM)

Menghadapi Urgensi Pendidikan Vokasi

Fri, 02/03/2017 - 05:20

JAKARTA – Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen. Belmawa) turut berpartisipasi dalam acara 26th Education & Training Expo 2017 yang diselenggarakan pada 2-5 Februari 2017 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, bersamaan dengan diselenggarakannya Forum Rektor Indonesia (FRI) 2017.

Konferensi dan acara pameran pendidikan dan pelatihan tersebut dibuka oleh Presiden Joko Widodo. Menteri Ristekdikti M. Nasir juga turut menyampaikan pidatonya dengan menekankan harapannya  bahwa FRI 2017 dapat memberikan rekomendasi dan masukan bagi pemerintah untuk pembangunan bangsa melalui jalur pendidikan.

Direktorat Jenderal Belmawa turut berpartisipasi mewakili Kemenristekdikti untuk melayani informasi seputar pembelajaran dan kemahasiswaan kepada masyarakat. Pada saat yang bersamaan, Sutrisna Wibawa selaku Sekretaris Ditjen Belmawa secara langsung menyampaikan informasi seputar Pendidikan Vokasi dan Beasiswa Bantuan Pemerintah.

Dalam kesempatan tersebut, Sutrisna menyampaikan bahwa lulusan pendidikan vokasi merupakan tenaga terampil yang akan memenuhi kebutuhan industri. Hubungan kerja sama tersebut perlu dikembangkan dengan cara penyusunan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri. Sementara di sisi lainnya, mahasiswa dari universitas merupakan tenaga yang membahas seputar bidang akademik, sehingga fokus lulusan universitas lebih banyak diarahkan untuk melakukan riset. Jika ingin memasuki bidang khusus, mahasiswa lulusan universitas memerlukan pendidikan khusus tingkat lanjut, tidak seperti pendidikan vokasi yang langsung menjadi tenaga terampil.

“Saat ini, Pendidikan Vokasi perlu meningkatkan hubungan kerja sama dengan bidang industri untuk menciptakan link and match,” tegas Sutrisna saat menjelaskan urgensi Pendidikan Vokasi. “Perlu dibangun hubungan kerja sama antara Pendidikan Vokasi dengan industri karena saat ini  antara kebutuhan pasar dan tenaga kerja yang tersedia belum terjalin dengan baik,” lanjutnya.

Di sesi selanjutnya, Sutrisna menyampaikan paparan di hadapan para siswa SMA mengenai bantuan pemerintah. Beasiswa Bidikmisi dan Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) menjadi bahan pembahasan pada sesi tersebut. Pemerintah melalui Ditjen. Belmawa menyediakan kuota sebanyak 80.000 untuk beasiswa Bidikmisi pada tahun 2017, dan saat ini masih berlangsung 360.000 mahasiswa Bidikmisi yang mengenyam Pendidikan Tinggi. Untuk Beasiswa PPA, hanya akan diterima setelah calon mahasiswa diterima di Perguruan Tinggi dengan bukti prestasinya. Beasiswa Bidikmisi mencakup S1, D3, bahkan beasiswa profesi tanpa menarik uang sepeserpun kepada para penerima beasiswa. Karena tujuan dari beasiswa Bidikmisi yaitu mendukung anak bangsa yang berprestasi namun memiliki kendala ekonomi untuk melanjutkan pendidikan.

Pada tahun 2016, Beasiswa Bidikmisi bisa dikatakan berhasil. Sebanyak 0.59% mahasiswa Bidikmisi mendapatkan IPK 4.00 dan secara keseluruhan, 80% mahasiswa memiliki IPK di atas 3.00. Maka, beasiswa tersebut terus dilanjutkan dan ditingkatkan pemerintah guna meningkatkan kualitas SDM anak bangsa. Pada saat ini Bidikmisi sudah dibuka pada bulan Januari 2017. Para calon penerima Bidikmisi harus mendaftarkan diri dahulu di laman Bidikmisi sebelum mendaftar SNMPTN. Kemudian para peserta Bidikmisi melakukan seleksi SNMPTN untuk selanjutnya mengikuti seleksi memasuki PTN yang akan dituju.

Pemerintah terus mendorong pemecahan masalah ekonomi melalui pendidikan tinggi dengan meningkatkan kualitas SDM Indonesia melalui kebijakan strategis yang diambil. Sehingga, dengan berpartisipasi dalam acara 26th Education & Training Expo 2017 di JCC Senayan, menjadi ajang sosialisasi kebijakan pemerintah. Kebijakan tersebut diharapkan dapat diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga mampu memenuhi amanat UUD 1945 dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (HLMY/Belmawa)

Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi Mendapat Apresiasi Dunia Industri

Thu, 02/02/2017 - 23:00

“Revitalisasi pendidikan tinggi vokasi itu bisa terlihat dari apa yang dibutuhkan oleh dunia industri dan kebutuhan itu sudah disiapkan oleh dunia pendidikan.” Demikian dikatakan Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia I Made Dana M Tangkas dalam talkshow Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi pada pameran Education and Training Expo 2017, yang diselenggarakan di Hall B Jakarta Convention Center, Kamis (2/2/2017).

Dana M Tangkas sangat mengapresiasi adanya program revitalisasi pendidikan tinggi vokasi Kemenristekdikti yang tahun ini mulai dilakukan.  “Saya kira ini adalah suatu hal yang bagus dan juga terobosan yang positif untuk kita dukung demi menggerakan industri yang ada di Indonesia.” ujarnya

PT Toyota sendiri, menurutnya, sudah bekerjasama dengan puluhan perguruan tinggi termasuk politeknik dan SMK (Sekolah Menegah Kejuruan), sehingga dalam kerjasama itu kita melihat bagaimana memanfaatkan produk – produk toyota dari mobilnya, mesinnya, dan komponen yang lain kita donasikan ke perguruan tinggi, kemudian di perguruan tinggi itu bisa dijadikan alat untuk riset,” lanjutnya.

Selain Dana M Tangkas, narasumber talkshow lainnya adalah Direktur Politeknik Negeri Bandung Rachmad Imbang Tritjahjono dan Sekretaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemenristekdikti, Sutrisna Wibawa.

Direktur Politeknik Negeri Bandung mengatakan nilai yang diberikan dalam pembelajaran mahasiswa vokasi untuk menjadi lulusan yang siap kerja dengan baik, seperti sikap hingga kedisiplinan. “Value yang di terapkan pendidikan politeknik adalah jujur, tanggung, cerdas, cermat, mampu bekerjasama yang akan memberikan kedisiplinan dalam tepat waktu, tepat ukuran dan tepat aturan,” ujarnya.

Sementara itu Sutrisna Wibawa menjelaskan, perbedaannya dengan pendidikan akademik, maka pendidikan vokasi arahnya bagaimana menghasilkan lulusan siap kerja, terampil, sedangkan pendidikan akademik yang dihasilkan lulusan yang memiliki keahlian.

“Jadi, jika anda ingin menjadi tenaga terampil yang siap kerja, masuklah di politeknik atau pendidikan vokasi. Tidak hanya politeknik, universitas juga memiliki pendidikan vokasi yang bernama sekolah vokasi yang umumnya sampai D3,” kata Sutrisna.

Saat ini perusahaan tidak hanya melihat para pencari kerja hanya dari selembar ijazah, tapi keterampilan dan keahlian juga sangat diperhatikan. Untuk memperoleh keterampilan di dunia kerja, biasanya para mahasiswa di perguruan tinggi mengikuti magang di dunia industri maupun perusahaan selama tiga bulan.

Waktu tersebut dapat dikatakan belum cukup, untuk para mahasiswa dalam memperoleh keterampilan bekerja, sehingga banyak lulusan yang menganggur karena belum siap untuk bekerja. Namun, melalui kinerja Kemenristekdikti dalam merevitalisasi pendidikan tinggi vokasi, para mahasiswa tidak perlu khawatir dalam mencari pekerjaan setelah lulus nanti.

Revitalisasi adalah bagaimana memberdayakan atau membuat politeknik memiliki hasil lulusan yang siap kerja sesuai dengan yang dibutuhkan industri, atau dibutuhkan oleh masyarakat. Berangkat dari hasil itu, maka lulusan politeknik dan sekolah vokasi harus memiliki kompetensi, yang tergambar dalam sertifikat kompetensinya. (NF/KL)

Pages