BAMBU TIDAK KALAH KUAT DARI BAJA SEBAGAI MATERIAL TULANGAN UNTUK RUMAH SEDERHANA

Bertempat di Balai Desa Pakuncen, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Tim Pelaksana dari Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Jenderal Soedirman melaksanakan sosialisasi pemanfaatan bambu sebagai tulangan untuk elemen dinding dan elemen pondasi rumah sederhana. Tim Pelaksana diketuai oleh Arnie Widyaningrum, S.T., M.T dengan anggota Yanuar Haryanto, S.T., M.Eng dan Eva Wahyu Indriyati, S.T., M.T. Sosialisasi yang dilaksanakan pada tanggal 28 Agustus 2016 tersebut merupakan bagian dari kegiatan dharma ketiga yaitu pengabdian kepada masyarakat. Hadir pada kesempatan tersebut sekitar 25 warga perwakilan masyarakat Desa Pakuncen yang didampingi oleh Suyatno selaku Kepala Desa Pakuncen. Sebagai narasumber tambahan hadir pula Nanang Guawan Wariyatno, S.T., M.T. yang telah banyak melakukan penelitian dengan topik pemanfaatan bambu sebagai tulangan pada struktur beton bertulang untuk rumah sederhana.

Dalam sambutannya sekaligus berkesempatan membuka acara, Kepala Desa menyampaikan bahwa usia produktif masyarakat Desa Pakuncen adalah sekitar 70% dengan mayoritas pekerjaan adalah petani/pekebun. Pemanfaatan bambu pada bidang konstruksi di Desa Pakuncen masih sangat terbatas untuk pembuatan kandang ternak yang untuk keperluan prbadi. “Komoditas pertanian/perkebunan yang diunggulkan di Desa Pakuncen salah satunya adalah budidaya bambu. Kegiatan sosialisai ini diharapkan mendatangkan manfaat nyata berkenaan dengan pemanfaat bambu sebagai material tulangan untuk rumah sederhana” begitu imbuhnya.

Arnie Widyaningrum, S.T., M.T (Ketua Pelaksana) yang berhalangan hadir dikarenakan pada saat yang bersamaan sedang mengikuti Diklat Prajabatan, dalam konfirmasi terpisahnya mengemukakan bahwa bambu sudah dikenal sebagai salah satu material konstruksi bangunan namun selama ini bambu dianggap milik kaum miskin yang cepat rusak. Bahkan Badan Pusat Statistik membuat salah satu kriteria masyarakat miskin adalah jenis lantai/dinding tempat tinggal terbuat dari bambu. Beberapa pertimbangan penting yang saat ini membatasi penggunaan bambu sebagai bahan konstruksi bangunan secara umum antara lain adalah daya tahan, kendala pada sambungan, mudah terbakar, dan kurangnya bimbingan desain dan standarisasi. “Jika tidak diobati, struktur bambu dipandang sebagai struktur bangunan sementara dengan umur pakai tidak lebih dari lima tahun” demikan menurut penuturan Eva Wahyu Indriyati, S.T., M.T. Lebih lanjut Yanuar Haryanto, S.T., M.Eng menerangkan bahwa terdapat beberapa teknik pengawetan bambu yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk dapat menaikkan umur pakai dan nilai ekonomis bambu. Salah satunya adalah teknik pengawetan bambu metode gravitasi yang mudah dilakukan dan hanya membutuhkan peralatan dan keterampilan yang sederhana.

Dalam paparannya, Nanang Gunawan Wariyatno, S.T., M.T. mengemukakan bahwa bambu dapat digunakan sebagai tulangan pada dinding partisi beton yang dapat memiliki kekuatan setara dengan dinding konvensional GRC (Glass Fiber Reinforced Cement). Kekuatan dinding partisi beton tulangan bambu dipengaruhi oleh jarak antar tulangan, semakin rapat jarak antar tulangan bambu maka kekuatannya makin tinggi. Hal yang sama juga berlaku untuk elemen plat pondasi telapak.

“Bambu sangat potensial menggantikan baja sebagai material tulangan, kekuatannya dapat dipersaingkan. Saya sudah mengaplikasikannya pada bangunan ruko dua lantai dan bangunan masjid. Pada elemen balok, kolom, dan pondasi, sebagian baja diganti dengan bambu di titik-titik yang mendukung beban tidak terlalu besar. Hal ini dapat mengemat biaya konstruksi sampai dengan 30%” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

EnglishIndonesian